Jassinmenransfernya kedalam dunia sastra sehingga menjadi satu istilah sastra karena ia melihat adanya kaitan yang sangat erat antara sastra dan perjuangan politik, sedangkan para sastrawan yang dimaksudkan berada di bawah kubu angkatan ’66 memang ikut ambil bagian di dalam perjuangan tersebut, baik secara. Angkatan ‘45 kurang dalam ilmu Darikaum agamawan (Protestan, Katholik dan Islam), dari golongan wanita serta golongan dari angkatan ’45 dan golongan yang mendapat vertolken, yang nantinya mengemukakan persoalan kedaerahan. Kendaraan politik Orde Baru yang dipimpin Soeharto terbentuk atas dukungan yang sangat besar dari kelompok-kelompok yang ingin terbebas dari Ordebaru hadir dengan semangat “koreksi total” atas penyimpangan yang dilakukan oleh Soekarno pada masa orde lama. Orde baru berlangsung dari tahun 1966 hingga 1998. Dalam jangka waktu tersebut ekonomi Indonesia berkembang pesat mestipun hal ini terjadi bersamaan dengan praktik korupsi yang merajalela di Negara ini. Secaraurutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan. (1) Pujangga Lama, (2) Sastra “Melayu Lama”, (3) Angkatan Balai Pustaka, Karya sastra di Indonesia sejak tahun 1920 – 1950, yang dipelopori oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair Alhasil ia mendapat dukungan dan lahirnlah sebuah tempat pendidikan Bahasa Indonesia. tepatnya di bawah kerindangan pohon Sawo yang tumbuh di tengah-tengah sekolah saat itu. Mereka tergabung dalam angkatan 66. tetapi mahasiswa Perguruan Tjikini lebih menekankan aksi mereka di bidang Task Force Tehnic. Misalnya memperbaiki jalan-jalan Indonesiaangkatan ‟66 yang konsisten mengangkat tema feminisme dan masih aktif menulis hingga kini. Hampir keseluruhan novel yang ditulisnya adalah cerita perjalanan hidupnya, atau merupakan cerita yang berasal dari pengalamannya. Namaku Hiroko adalah novel yang ditulisnya saat ia menetap di Jepang . Periodisasi Sastra Indonesia dari angkatan per angkatan telah berkembang sangat pesat, dimulai dari angkatan Balai Pustaka sampai angkatan sastran milenial atau Cybersastra setiap periodisasi memiliki karakteristiknya masing-masing. Angkatan-angkatan itu muncul hampir 5 tahun sampai 15 tahun sekali. Jadi dapatlah pula kita menamakan angkatan-angkatan itu berdasarkan usianya. Selama waktu itu pengalaman dan situasi masing-masing generasi rupanya agak berbeda sehingga melahirkan ciri-ciri tersendiri pada BERLAKANG TERBENTUK NYA PERIODE SASTRA ANGKATAN 1966Masing-masing angkatan sastra dimulai dengan munculnya sekumpulan sastrawan yang tahun kelahirannya hampir sama dan menulis dalam gaya yang hampir sama dalam majalah atau penerbitan yang karya sastra dianggap ideal apabila mencakup setidaknya lima aspek. Yang pertama adalah waktu. Waktu yang dimaksud adalah periodisasi atau angkatan yang menggolongkan karya sastra tersebut. Baik angkatan 1920-an, 1933, 1942, 1945, 1953, 1966 dan kedua adalah wilayah. Karya sastra tersebut harus berada di territorial Indonesia yaitu dari sabang sampai merauke. Yang ketiga dalah bahasa. Sastra Indonesia harus menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Yang keempat adalah Indonesia yang ideal harus dikarang oleh orang berkebangsaan Indonesia. yang kelima adalah isi karya. Isi karya sastra Indonesia yang ideal adalah bercerita tentang bangsa maupun kehidupan orang Indonesia itu pengarang karya tersebut adalah orang Indonesia, namun karyanya tidak menggunakan bahasa Indonesia tidak dapat disebut sastra Indonesia yang ideal. Jika karya itu sudah diterjemahkan menggunakan bahasa Indonesia disebut sastra berjalannya waktu, sejarah sastra Indonesia mengikuti perkembangan jamannya. Begitu pula pada karya sastra angkatan periode ini, lebih bersifat mengkritik pemerintahan maupun politik. Pada angkatan ini, sastrawan sudah mulai mengkritisi keadaan pemerintah maupun politik yang ada pada jaman itu. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas lebih detail mengenai “Sastra Angkatan 66.”SEJARAH TERBENTUKNYA PERIODE SASTRA ANGKATAN 1966Angkatan ini ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horison. Semangat avant-grade sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra, munculnya karya sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, absurd, dan Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya sastra pada masa ini. Sastrawan pada akhir angkatan yang lalu termasuk juga dalam kelompok ini diantaranya Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Moehammad, Sapardi Djoko Damono, dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia, angkatan ’66 dicetuskan Hans Bague Jassin melalui bukunya yang berjudul Angkatan ’66. Angkatan ini lahir bersamaan dengan kondisi politik Indonesia yamg tengah mengalami kekacauan akibat merajalelanya paham komunis. Pada saat itu, PKI hendak menguasai Negara dan berusaha menggantikan ideologi Pancasila dengan ideologi karena itu, karya sastra yang lahir pada periode ini lebih banyak yang berwarna protes terhadap keadaan sosial dan politik pada masa masanya karya sastranya berupa novel, cerpen dan drama kurang mendapat perhatian, bahkan sering menimbulkan kesalahpahaman. Ia lahir mendahului jamannya. Baca Juga Cuplikan Sejarah Periodisasi Sastra Balai Pustaka Beserta Tokohnya Latar Belakang dan Sejarah Lahirnya Periodisasi Sastra Angkatan 45 Sejarah yang Melatarbelakangi Lahirnya Periode Sastra Pujangga Baru Beberapa sastrawan pada angkatan ini antara lain Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arif C. Noer, Akhudiat, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Karjo, Taufik Ismail dan masih banyak politis lahirnya angkatan ini dilatarbelakangi oleh pergolakan politik dalam masyarakat dan penyelewengan-penyelewengan pemimpin-pemimpin Negara yang tidak memiliki moral, agama, dan rasa keadilan demi kepentingan pribadi dan tersebut antara lain pelanggaran terhadap Pancasila sebagai dasar Negara dan UUD 45 dengan memasukkan komunis sebagai sebuah nilai keindonesiaan yang tentu saja melanggar sila itu, pengangkatan Soekarno sebagai presiden seumur hidup tidak sesuai dengan prinsip demokrasi. Hal-hal tersebut membuat Negara menjadi semakin terpuruk dan rakyat dengan semangat kebangkitan angkatan 66 masyarakat menolak kebudayaan didominasi oleh politik. Perlawanan ini dilakukan oleh semua kalangan yang diawali oleh gerakan mahasiswa, selain selain pemberontakan-pemberontakan di daerah-daerah seluruh politik tersebut berimplikasi pada paham sastra yang berkembang pada masa tersebut. Terdapat dua kelompok, yaitu golongan penulis yang terkumpul dalam lekra dan para seniman penandatangan manifest itu, terdapat sastrawan yang tidak terkumpul pada keduanya yang tetap pada posisi netral. Lekra, mulanya bukan lembaga budaya PKI. Menjadi salah satu media dalam metode penyerangan terhadap berbagai bidang PKI yang agresif. Serangan dilakukan pada orang-orang yang tidak bersedia mendukung PKI. Salah satu tokoh yang diserang adalah pada awal Agustus 1963 di Bogor dan di Jakarta diadakan pertemuan-pertemuan antara tokoh budaya, pengarang dan seniman lainnya untuk membahas manifest kebudayaan adalah perlawanan-perlawanan yang dilakukan para budayawan dan sastrawan akibat tekanan yang bertambah besar dari pihak komunis dan pemimpin bangsa yang mau menyelewengkan rumusan itu dibawa kedalam siding lengkap pada tanggan 24 Agustus 1963. Selaku pimpinan sidang Gunawan Muhamad dan sekretarisnya Bokor Hutasuhut siding memutuskan naskah manifest kebudayaan yang bunyinya sebagai berikut.“Kami para seniman dan cendikiawan Indonesia dengan ini mengumumkan sebuah Manifes Kebudayaan yang menyatakan pendirian, cita-cita dan politik Kabudayaan Nasional kami.”“Bagi kami kebudayaan adalah perjuangan untuk menyempurnakan kondisi hidup manusia. Kami tidak mengutamakan salah satu sector kebudayaan di atas sector kebudayaan yang lain. stiap sector berjuang bersama-sama untuk kebudayaan itu sesuai dengan kodratnya.”“Dalam melaksanakan kebudayaan nasional kami berusaha menciptakan dengan kesungguhan yang sejujur-jujurnya sebagai perjuangan untuk mempertahankan dan mengembangkan martabat dari kami sebagai bangsa Indonesia di tengah-tengah masyarakat bangsa-bangsa. Pancasila dalah falsafah kebudayaan kami.”kManifest kebudayaan ini pertama kali dipublikasikan dalam surat kabar Berita Republik Jakarta. Manifest tersebut ditandatangani pada 17 Agustus 1963 oleh beberapa pengarang antar lain Zain, Trisno, Sumardjo, Goenawan Mohamad, Bokor Hutasuhut, Wiratmo Soekito, dan Soe hok djin. Pasca diumumkan, manifest tersebut didukung oleh seniman-seniman di daerah. Namun, Lekra tidak tinggal menggunakan pengaruh dalam pemerintahan dan semua media yang telah dikuasai oleh mereka, mereka menyerang manifest kebudayaan dan orang-orang yang menyatakan bahwa manifest kebudayaan dilarang. Penandatanganan manifest tersebut diusir dari tiap kegiatan, ditutup segala kemungkinan untuk mengumumkan karya-karyanya, bahkan yang menjadi pegawai pemerintah dipecat dari yang menjadi tempat menulis dituntut untuk ditutup. Salah satunya majalah Sastra yang didirikan Angkatan 66 dalam sastra Indonesia mencakup kurun waktu tahun 1963-1970-an. Disamping itu, karya tahun 1966 ini tidak hanya bercirikan protes sosial, politik, ekonomi melainkan juga bercirikan agama. Hal ini dimaksud pengarang untuk membedakan dirinya dari pengarang lekra yang cenderung ateis. Hal ini dapat dilihat dengan jelas pada karya Taufik Ismail, yang semula menulis puisi demontrasi, kemudian menulis puisi-puisi yang bersumber dari Tarikh dan PenulisMudah-mudahan sobat tweeters dapat mengerti serta memahami proses bagaimana periode sastra angkatan 1966 terbentuk, bila ada hal yang ingin ditanyakan silahkan tulis dikomentar dan mari kita diskusikan bersama. BETUL yang pernah ditulis Parakitri T. Simbolon –penulis dengan visi kebudayaan yang mendalam– di tahun 2006 “Apa yang pernah disebut Angkatan 66 praktis sudah dilupakan orang”. Meskipun, “Angkatan 66 pernah membahana di persada Tanah Air Indonesia”. Pejuang kemerdekaan Indonesia, Bung Tomo, April 1966 dengan rendah hati mengakui bahwa Angkatan 66 lebih hebat daripada Angkatan 45. Berbeda dengan Angkatan 45 yang berjuang dengan bedil, Angkatan 66 berjuang tidak dengan senapan, tapi dengan “keberanian, kecerdasan, kesadaran politik, motif yang murni”. Dengan semua itu Angkatan 66 “memberi arah baru pada sejarah nasional Indonesia”. Penamaan Angkatan 66 itu sendiri, diusulkan oleh Jenderal Abdul Harris Nasution kepada KAMI Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia yang baru saja dibubarkan oleh KOGAM Komandan Ganyang Malaysia 26 Februari 1966. Kendati sejarah tentang peranan Angkatan 66, telah menjadi bagian dari arsip yang berdebu sejalan berlalunya waktu, tetap saja harus dicatat bahwa generasi muda yang bergerak waktu itu adalah kelompok paling konseptual selain tokoh-tokoh kemerdekaan tahun 1945 sepanjang sejarah republik ini. SOEKARNO DAN JENDERAL SOEHARTO. “Mahasiswa menjadi kekuatan utama yang menuntut Presiden Soekarno di-Mahmilub-kan dan diberhentikan dari kekuasaannya. Ketika Jenderal Soeharto menampilkan’ sikap mikul dhuwur mendhem jero’ terhadap Soekarno, mahasiswa mengecamnya. Setelah Soekarno diturunkan Maret 1967, pada masa-masa berikutnya banyak tokoh 1966 terlibat dalam gerakan konseptual untuk pembaharuan kehidupan politik dan kehidupan bernegara”. Karikatur Harjadi S, 1967 Generasi pergerakan berikutnya, memang juga berhasil menggebrak, khususnya sebagai ujung tombak di tahun 1998, sehingga terjadi perubahan kekuasaan, namun dengan cepat mereka dikandangkan oleh kekuatan politik yang ada. Salah satu penyebabnya, karena ketiadaan konsep tentang arah perubahan negara berikutnya. Sepenuhnya kendali politik dan benefit dari kejatuhan Soeharto akhirnya dinikmati oleh partai-partai politik –campuran dari partai masa Orde Baru yang memodifikasi diri, dan partai-partai baru dengan semangat dan corak ala kepartaian masa konstituante. Dan di tangan penikmat benefit kekuasaan pasca tumbangnya Soeharto –partai-partai politik maupun kelompok-kelompok tentara sisa Orde Baru– seperti yang bisa disaksikan sebagai fakta saat ini, Indonesia makin tergiring ke tepi jurang kegagalan negara. Januari 1966, mahasiswa sebagai generasi muda, menurut sejarawan Anhar Gonggong, kembali tercatat dalam sejarah modern Indonesia, sebagaimana juga yang telah terjadi pada mahasiswa pendahulu-pendahulunya pada pergerakan nasional 1908-1945. Mahasiswa dalam kurun waktu itu disebut sebagai Angkatan 08 dan 28, yang dikaitkan dengan tahun 1908 dan 1928. Pada tahun 1966 disebutkan sebagai Angkatan 66. “Sebutan Angkatan 66 itu memiliki –setidaknya sampai tahun 1970-an– makna yang membanggakan, kalau tidak dapat disebut memiliki kekuatan kharismatis, karena dianggap kumpulan hero’ yang meruntuhkan pemerintahan yang otoriter”. Di awal-awal gerakannya, aktivis 1966 mengutamakan gerakan kritis terhadap kekuasaan Soekarno. Mahasiswa menjadi kekuatan utama yang menuntut Presiden Soekarno di-Mahmilub-kan dan diberhentikan dari kekuasaannya. Ketika Jenderal Soeharto menampilkan’ sikap mikul dhuwur mendhem jero’ terhadap Soekarno, mahasiswa mengecamnya. Setelah Soekarno diturunkan Maret 1967, pada masa-masa berikutnya banyak tokoh 1966 terlibat dalam gerakan konseptual untuk pembaharuan kehidupan politik dan kehidupan bernegara. Pada tahun 1968-1969 misalnya, tokoh-tokoh 1966 dari Bandung bahkan terlibat dengan pencetusan gagasan perombakan struktur politik. Mereka menganggap, rezim baru di bawah Soeharto belum menuntaskan pembaharuan politik, karena sekedar mempertahankan struktur politik lama minus PKI. Sementara itu, sejumlah tokoh ex gerakan 1966 yang umumnya dari Jakarta, memilih bekerja bersama Soeharto dalam kekuasaan negara, dan ikut dalam perencanaan sejumlah konsep pembangunan, antara lain dalam setiap penyusunan GBHN Garis-garis Besar Haluan Negara. Memang setelah lahirnya Super Semar Surat Perintah 11 Maret 1966, ada semacam pembelahan di tubuh Angkatan 66. Di satu sisi, mereka yang menempatkan diri sebagai pendukung utama Soeharto yang menganggap perjuangan’ sudah selesai saat kekuasaan sepenuhnya telah berada di tangan Jenderal Soeharto. Dan pada sisi yang lain adalah mereka yang menganggap bahwa peralihan kekuasaan tanggal 11 Maret dan pembubaran PKI 12 Maret 1966, barulah awal dari suatu pembaharuan kehidupan politik. Pada tanggal 10 Januari 1966, demonstrasi mahasiswa meletus di Jakarta, sebagai reaksi terhadap kenaikan harga-harga yang dipicu oleh kebijakan pemerintah menaikkan harga bensin. Per 3 Januari 1966 itu harga bensin dinaikkan menjadi Rp. 1000 per liter, padahal sebelumnya pemerintah telah menaikkan harga bensin menjadi Rp. 250 per liter pada 26 November 1965. Tetapi inflasi pada masa itu memang luar biasa. Ketika harga bensin naik, harga beras yang Rp. 1000 per liter terpicu menjadi per liter. Dalam demonstrasi 10 Januari 1966 itu mahasiswa melontarkan Tritura Tri Tuntutan Rakyat, yang meliputi Bubarkan PKI, Ritul Kabinet Dwikora dan Turunkan Harga. Tiga tuntutan itu, memiliki latar belakang keinginan pembaharuan politik, pembersihan pemerintahan dan solusi keadilan sosial-ekonomi bagi rakyat. Sejauh ini, hingga 47 tahun setelah dicetuskan, pokok persoalan yang dihadapi Indonesia, ternyata tak bergeser jauh. Kehidupan politik dengan sistem kepartaian yang korup, konspiratif dan berorientasi kepada pengejaran kekuasaan semata; sistem pemerintahan dan pengelolaan kekuasaan yang tidak efisien, tidak efektif dan korup penuh persekongkolan; beban berat dan ketidakadilan ekonomi bagi rakyat; merupakan pokok-pokok persoalan yang belum kunjung berhasil ditangani oleh rezim-rezim kekuasaan yang ganti berganti. Tugas generasi baru untuk menanganinya. TERLEPAS dari pernah terjadinya berbagai pembelahan di tubuh kalangan pergerakan tahun 1966, mesti diakui bahwa pergerakan tersebut telah menjadi kancah tampilnya tokoh-tokoh muda yang handal secara kualitatif. Sikap altruisme juga masih menjadi faktor kuat dalam pergerakan tersebut. Ini melebihi pergerakan generasi muda berikutnya. Soeharto sendiri, semasa berkuasa berkali-kali menggunakan kemampuan tokoh-tokoh muda eks gerakan 1966 itu, baik di lembaga legislatif maupun di lembaga eksekutif. Beberapa tokoh 1966 menjadi menteri yang berhasil, meski ada juga yang ternyata menjadi bagaikan kacang yang lupa akan kulitnya’ karena mabuk oleh bius kekuasaan. Pada umumnya, di masa Soeharto, nyaris tak ada menteri atau pejabat di eselon lebih bawah eks pergerakan 1966 yang terlibat korupsi serius’. Meski kecenderungan tersebut bukannya tak dimiliki oleh beberapa tokoh ex 1966, khususnya yang berasal dari organisasi ekstra tertentu. Agaknya, memang susah mencuri’ dalam rezim Soeharto, tanpa lisensi khusus sebagai pengumpul dana. Tetapi, sungguh menarik, beberapa tokoh dengan embel-embel label 1966 yang diikutsertakan dalam kabinet para Presiden pasca Soeharto, justru disebut-sebut dan bahkan ada di antaranya yang dihukum karena perkara korupsi. Namun bisa dicatat bahwa mereka yang disebut terakhir ini, tercatat hanya sebagai tokoh berkategori pinggiran dalam perjuangan 1966. Sewaktu rezim Soeharto masih berusia kurang dari satu dasawarsa, seringkali orang memproyeksikan kalangan tentara ABRI dan kalangan pergerakan 1966 sebagai sumber persediaan tokoh pemimpin nasional berikutnya. Tetapi ketika proses pemilihan presiden setiap 5 tahun, hanya menghasilkan Soeharto dan Soeharto lagi sebagai Presiden, proyeksi semacam itu memudar dengan sendirinya. Terganti permainan wayang, dengan memunculkan sejumlah tokoh-tokoh militer sebagai calon pemimpin nasional berikutnya di arena rumor politik. Tokoh-tokoh itu, adalah para jenderal yang ada di lingkaran kekuasaan Soeharto. Nama tokoh 1966 tak pernah ada dalam lakon perwayangan ini, sampai saatnya uacapan Marzuki Darusman –bahwa karir tertinggi seorang anggota DPR sebagai politisi, adalah posisi Presiden– tampil mengusik. Jadi, sebegitu jauh, tokoh eks pergerakan 1966, tak pernah tampil dalam gelanggang perebutan kursi Presiden. Barulah pada pasca Soeharto, beberapa nama tokoh 1966 sempat tampil dalam deretan calon Presiden di tingkat partai, namun sejauh ini tak terwujud. Hanya Jusuf Kalla, tokoh 1966 dari daerah, yang pernah berhasil coming from behind’ menjadi Wakil Presiden mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono. Hingga kini, Jusuf yang bukan tokoh utama pergerakan 1966 ini, masih melanjutkan usahanya untuk menjadi Presiden. Tapi agaknya, 9 dari 10 kemungkinan, generasi pergerakan 1966 adalah generasi yang terloncati dalam konteks kepemimpinan nasional, karena partner’ perjuangannya di tahun 1966 telah terlalu lama memborong’ kekuasaan negara. Meskipun, dalam jajaran Angkatan 1966 tersebut, terdapat sejumlah tokoh dengan kualitas Kepresidenan yang melebihi beberapa tokoh yang pernah ada dalam posisi tersebut. Pada umumnya, tokoh-tokoh berlatar belakang 1966 yang mungkin saja bisa disebutkan di sini –seperti Jenderal Purnawirawan Endriartonio Sutarto ex KAPI Bandung 1966, atau Sarwono Kusumaatmadja dan Marzuki Darusman sekedar sebagai contoh– tidak pernah berpikir memperkuat otot politik dan memenuhi pundi-pundi, yang merupakan syarat tak tertulis yang justru penting’. Tapi dua nama yang disebutkan terakhir, memang tak pernah mencalonkan diri. Syarat tak tertulis ini justru dimiliki misalnya Abrurizal Bakrie –seorang tokoh junior yang sejenak mengikuti perjuangan 1966 di Bandung sebelum disekolahkan ayahanda ke luar negeri– atau tokoh-tokoh pasca 1966 seperti Prabowo Subianto dan Wiranto. Entah dengan Mahfud MD. Mohon tulisan ini diterima sebagai suatu catatan ringan dari arsip yang telah berdebu dengan berjalannya waktu. Bukan kampanye, bukan pula provokasi. di seluruh dunia kerap menjadi kalangan masyarakat sipil yang melakukan partisipasi politik, selain buruh. Mereka biasanya adalah kelompok terpelajar yang melek politik, berserikat, berdiskusi atau berkonsolidasi, dan membuat kajian terkait situasi yang ada maupun untuk pergerakannya. Semenjak Indonesia merdeka, mahasiswa memiliki kisah panjang pergerakannya. Keberadaan di masa Demokrasi Terpimpin, sektor pendidikan di Indonesia berkembang dan memunculkan banyak kalangan mahasiswa, dan mulai menguatkan afiliasinya dengan partai dan basis massa. Afiliasi ini sudah terbentuk sejak kemerdekaan, saat Himpunan Mahasiswa Indonesia HMI berafiliasi dengan Masyumi, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia GMNI dengan PNI, Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia CGMI dengan PKI, dan Gerakan Mahasiswa Sosialis Gemsos dengan PSI. Arif Novianto dalam Pergulatan Gerakan Mahasiswa dan Kritik terhadap Gerakan Moral menulis, tahun 1950 hingga 1960-an adalah masa ketenangan politik relatif di kampus-kampus, dan kebanyakan mahasiswa bersifat hedonistik, elitis, dan apolitis. Banyak mahasiswa saat itu berasal dari kalangan atas dan membuat ideologi borjuis, sehingga minim pergerakan. Angkatan 1965-1966 "Tetapi semua berubah pada 1965-1966," tulis Novianto. Uniknya, gerakan mahasiswa Indonesia saat itu berbeda dengan umumnya di Asia. Kampus-kampus di wilayah Asia masa itu tumbuh dan berkembang gerakan yang berbasis politik kiri dan komunis. Sedangkan di Indonesia justru gerakan yang memberangus kalangan kiri, oleh sayap kanan yang anti-komunis dan anti-sukarnois. Bahkan, salah satu aktivis mahasiswa, Soe Hok Gie dan Arif Budiman lantang mengkritik pemerintahan Sukarno. Selain itu, terbukti pada Oktober 1965 ada pertemuan di rumah Menteri Pendidikan Tinggi Brigjen Syarief Thayep, dan terbentuklah Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia KAMI. Public Domain Soe Hok Gie, tokoh pergerakan mahasiswa 1966 berfoto bersama teman-temannya. Selanjutnya, mahasiswa bersama militer melakukan pergerakan politik dengan Tiga Tuntutan Rakyat Tritura. Bahkan, demi mendulang dukungan, mahasiswa pada saat itu menerbitkan koran propaganda, seperti Angkatan 66, Angkatan Baru, dan Harian Kami. Novianto menulis, gerakan mahasiswa angkatan 66 dan militer itu adalah pergerakan kontra-revolusi. Karena pergerakan mereka melakukan penindasan massal terhadap jutaan orang dari organisasi kiri, dan memberangus gerak roda revolusi Indonesia. Akhirnya, Soeharto pun naik menjadi presiden. Baca Juga Sukarno Bukan Tanpa Cela, Berkali-Kali Dia Dikritik oleh Soe Hok Gie Baca Juga Aktivisme hingga Petualangan Antara Gie, Pendakian, dan Semeru Baca Juga Studi Baru Mahasiswa Menghindari Interaksi Sosial Saat Sedang Stres Baca Juga Terbuangnya Generasi Intelektual Indonesia Setelah Peristiwa 1965 Dari Malari 1974 hingga Reformasi 1998 Pasca kenaikan Soeharto, dan naiknya kekuatan militer, menumbuhkan gerakan kontra-revolusi karena pengekangan terjadi pada depolitisasi rakyat. Terlebih pada 1972, Ali Moertopo menggagas penyederhanaan partai politik, dwifungsi ABRI, dan pembatasan sosial-politik. Kebijakan ini membelenggu gerakan mahasiswa, sehingga yang ada hanya pergerakan moral—tidak selantang gerakan progresif. Beberapa gerakan itu seperti Peristiwa Malari Malapetaka 15 Januari 1974 yang dipelopori Dewan Mahasiswa UI. Dalam Malari, protes mahasiswa meluas mempertanyakan kedekatan pemerintah dengan pengusaha etnis Tionghoa saja dan menolak investasi Jepang. Tetapi pergerakan itu diredam pada 19 Januari 1974, dengan tertangkapnya 18 aktivis. Kompas Persitiwa Malari Malapetaka 15 Januari 1974. Arief Budiman sebagai salah satu pemimpin pergerakan menulis—dikutip dari Novianto, bahwa sesudah 1974 masyarakat takut menyuarakan kritik. Hal itu makin diperkuat dengan depolitisasi gerakan mahasiswa oleh Soeharto lewat SK Mendikbud tahun 1978 tentang normalisasi kampus. Lalu ada pula SK tahun 1979 yang mengatur bentuk dan susunan organisasi kemahasiswaan yang bisa dikontrol ketat oleh pemerintah. Gerakan mahasiswa progresif muncul di era akhir 1980-an sampai 1998, tulis Novianto. Mahasiswa belajar dari kesalahan dan kekalahan pasca 1965 yang terjerembab dalam gerakan moral yang terpisah dari kekuatan rakyat dan tidak memiliki basis yang kuat maupun luas. Berdasarkan data Yayasan Insan Politika, jumlah protes mahasiswa melonjak sejak 1992. 71 aksi protes pada 1993, dan 111 pada 1994. Data itu belum termasuk pergerakan yang digabungkan dengan aksi buruh dan petani yang juga turut berkembang. Saat terjadi konflik PDI Partai Demokrasi Indonesia, 37 pimpinan anggota PRD Partai Rakyat Demokratik yang mendukung Megawati ditangkap, termasuk Budiman Sudjatmiko. Akibatnya, PRD dilarang, dan aktivisnya bergerak lewat bawah tanah dengan memengaruhi gerakan-gerakan dan organisasi mahasiswa. Meski demikian, gerakan mahasiswa yang sudah membesar belum juga bergerak bersama rakyat. Momentum pada krisis moneter 1997 membuat mereka muncul secara spontan, dan mulai memobilasasi massa dengan terus meningkat bersama rakyat. Dwi Oblo Pada 20 Mei 1998, Sultan Hamengku Buwono X dan KGPAA Paku Alam VIII mengajak masyarakat Yogyakarta untuk tetap tidak terpancing kerusuhan. Singkatnya, pada 21 Mei 1998 mahasiswa berhasil memaksa Soeharto mengundurkan diri dari jabatan presiden. Mereka juga menduduki kantor DPR di Senayan dengan sesak beragam jas almamater mereka. Pergerakan sebenarnya menolak Habibie yang menggantikan Soeharto, karena merupakan bagian kroni-korni Orde Baru. Tetapi mahasiswa yang konservatif dan moderat tetap mendukung transisi ini, yang masih menggunakan metode lama gerakan moral. Era Reformasi Pasca Reformasi, aktivisme mahasiswa masih berlanjut. Pada 2007 misalnya, mahasiswa dari 37 peguruan tinggi mendirikan BEM SI Badan Eksekutif Mahasiswa - Seluruh Indonesia. Pergerakan mahasiswa muncul pada periode pertama Soesilo Bambang Yudhoyono dengan Tujuh Gugatan Rakyat Tugu Rakyat, dan aksinya diselenggarakan pada Mei 2008 di Istana Negara. Tuntutan itu meminta pemerintah menasionalisasi aset startegis bangsa, mewujudkan pendidikan yang bermutu dan merata, menuntaskan kasus BLBI dan korupsi Soeharto bersama kroni-korninya, hingga isu lingkungan akibat lumpur Lapindo. Mereka melanjutkannya pada Sidang Rakyat tahun 2014 ketika Presiden Joko Widodo bersama Jusuf Kalla baru memimpin. Mereka membawa tuntutan atas masalah yang terjadi di Indonesia, dengan hendak menghentikan kekuasaannya. Kendati demikian, Novianto menulis gerakan BEM SI terlihat radikal dan militan. Tetapi, gerakan yang disebut Tugu Rakyat 2008, dan Sidang Rakyat 2014 memiliki kelemahan, yakni tidak melibatkan gerakan rakyat. "Metode gerakan dari BEM SI cenderung bersifat regresif, mereka gagal melihat siapa kawan yang harus dirangkul dan siapa musuh yang harus dilawan," tulis Novianto. "Mereka masih menganggap bahwa wacana pembebasan sosial bagi rakyat tertindas bisa dilakukan tanpa melibatkan gerakan rakyat tertindas secara sadar." Keenan Anoman Pasha Aksi mahasiswa jas almamater biru muda bersama buruh seragam merah pada penolakan Omnibus Law pada 8 Oktober 2020. Pada Sidang Rakyat, lagi-lagi Novianto mengkritik tuntutan mahasiswa yang meminta Joko Widodo dan Jusuf Kalla mundur. Pandangan revolusioner itu terpampang meletakkan analisis oligarki dan kapitalisme. Mahasiswa hendak menurunkan Joko Widodo tetapi gagal menentukan siapa penggantinya, dan mencegah oligarki yang digadangkan tetap berkuasa. Aksi mahasiswa juga terjadi pada 2019 dalam Reformasi Dikorupsi. Protes ini berlangsung di kota-kota besar seluruh Indonesia, dengan menolak beberapa UU, meminta mengesahkan RUU PKS untuk menyelesaikan kasus kekerasan seksual, hingga menyelesaikan kasus pelanggaran HAM. Selanjutnya pun ada aksi Tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja pada 2020 yang dinilai berdampak pada segala lini, seperti isu lingkungan, hingga mengabaikan kesejahteraan buruh. Abdil Mughis, dosen sosiologi Universitas Negeri Jakarta mengkritik gerakan mahasiswa pasca Reformasi khususnya pada 2019. Ia menilai gerakan mahasiswa yang dilakukan hanyalah aktivisme borjuis. Lantaran, pengorganisasian mahasiswa belum ada yang berbasis kelas, dan hanya membentuk LSM yang melunakkan tuntutan perubahan. Aksi Reformasi Dikorupsi dianggap cair dan tidak memiliki pemimpin, atau hanya sekadar menjadi kerumunan. Mughis dalam Project Multatuli, menganggap gerakan mahasiswa kerap menyalahkan penguasa dan negara, tetapi kontradiktif dengan tuntutan yang berharap adanya budi baik penguasa. PROMOTED CONTENT Video Pilihan Oleh Anju Nofarof H / SI 5 suatu kajian dalam buku politik dan ideologi mahasiswa indonesia karya francois raillon Setiap generasi menciptakan sejarahnya sendiri ungkap Syahdan, ahli sejarah. Artinya, setiap generasi mahasiswa yang ada dan hidup pada massanya telah menggoreskan catatan emas di setiap eksistensinya dalam dinamika kehidupan masyarakat Indonesia. Seperti, tertuang dalam lirik mars mahasiswa, yang juga lahir dalam semangat revolusioner mahasiswa yang merubah perwajahan KeIndonesian pada akhir rezim orde baru orba 21 Mei 1998. Mengubah segala aspek kehidupan multidimensional, masyarakat mengatakan itu Reformasi. Setiap generasi pergerakan mahasiswa terutama dalam bidang politik, selalu ada dan tetap ada, dengan syarat mahasiswa masih diberi label sebagai agent of change dan agent of control. Tidak terkecuali angkatan 66, angkatan 66 mempunyai peranan dalam transisi rezim Orde Lama ORLA ke Orde Baru ORBA. Dalam perjalanan sejarah Indonesia abad ke 20, beberapa momentumnya selalu dikaitkan dengan kerterlibatan suatu generasi dalam momentum sejarah tersebut seperti, angkatan 1908 yang ditandai dengan momentum Sejarah modern Indonesia yakni "Kebangkitan Nasional", angkatan 1928 sebagai generasi "Sumpah Pemuda". selanjutnya, puncak dari perjuang rakyat Indonesia ialah lahirnya bangsa Indonesia secara deklarasi, pada 17 agustus 1945 disebut angkatan 45, angkatan Kemerdekaan. 1966, terjadi lagi momentum Sejarah yang mewarnai perjalanan bangsa Indonesia yakni lengsernya the founding father nya bangsa Indonesia, Soekarno. Menandai berakhirnya rezim Orde Baru ORBA selanjutnya, menuju rezim Orde Lama ORLA, pimpinan Soeharto. Dalam tulisan Parakitri T. Simbolon –penulis dengan visi kebudayaan yang mendalam– di tahun 2006 "Apa yang pernah disebut Angkatan 66 praktis sudah dilupakan orang". Meskipun, "Angkatan 66 pernah membahana di persada Tanah Air Indonesia". Pejuang kemerdekaan Indonesia, Bung Tomo, April 1966 dengan rendah hati mengakui bahwa Angkatan 66 lebih hebat daripada Angkatan 45. Berbeda dengan Angkatan 45 yang berjuang dengan bedil senjata, Angkatan 66 berjuang tidak dengan senapan, tapi dengan "keberanian, kecerdasan, kesadaran politik, motif yang murni". Dengan semua itu Angkatan 66 "memberi arah baru pada sejarah nasional Indonesia". Penamaan Angkatan 66 itu sendiri, diusulkan oleh Jenderal Abdul Harris Nasution kepada KAMI Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia yang baru saja dibubarkan oleh KOGAM Komandan Ganyang Malaysia 26 Februari 1966. Kendati sejarah tentang peranan Angkatan 66, telah menjadi bagian dari arsip yang berdebu sejalan berlalunya waktu, tetap saja harus dicatat bahwa generasi muda yang bergerak waktu itu adalah kelompok paling konseptual selain tokoh-tokoh kemerdekaan tahun 1945 sepanjang sejarah republik ini. Dalam buku "gerakan 30 september, pelaku, pahlawan dan petualang" catatan Julius Pour menjelaskan bahwa kondisi politik di Indonesia periode 60-an memang baru lolos dari krisis. Bahkan, ancaman perpecahan kepemimpinan presiden Soekarno dikecam para sejumlah panglima militer angkatan darat AD. Melihat Soekarno bergeming, sebagian dari merekan bertindak nekat. Mereka menuduh Jakarta menelantarkan daerah. Angkatan 66 adalah angkatan anti Soekarno, angkatan yang berusaha untuk menjatuhkan kepemimpinan Soekarno. Keinginan mahasiswa itu sudah dimulai ketika Demokrasi Terpimpin 1959-1966. Akan tetapi, pada sidang umum MPRS 1966, mahasiswa berusaha untuk meninjau kembali dekrit tersebut. Tujuannya untuk memperlemah kedudukan Soekarno, yang pada saat itu mempunyai pengaruh dan kedudukan yang besar dalam sistem perpolitikan Indonesia. Mahasiwa Indonesia menyerang kewibawaan dan politik "Cabut keputusan MPRS yang bertentangan dengan UUD '45 Juni 1966"," Jabatan presiden seumur hidup inkonstitusional juni 1966". Bahwa Soekarno adalah pencipta Pancasila dipertanyakan. Pidato 9 pasal yang berjudul Nawaaksara yang dibicarakan Soekarno dimuka MPRS dinyatakan tidak memuaskan. Politik luar negeri Soekarno juga diserang, poros Jakarta-Peking mesti dihancurkan; "tinjau kembali hubungan diplomatik dengan RCC" dan konfrontasi musti dihentikan; "dukung persetujuan Bangkok". Persetujuan ini baru saja ditandatangani oleh Malaysia dan Indonesia. Mahasiswa Indonesia juga mengumumkan bahwa mulai juli, KAMI Kesatuan Aksi Mahassiwa Indonesia Konsulat Bandung telah mengirimkan satu delegasi ke ibu kota untuk membuat tekanan ke MPRS. Dan menegakkan kedaulatan rakyat. Cara ini kemudian akan diulangi berkali-kali. Politik Indonesia pasca kemerdekaan diwarnai oleh sengitnya persaingan antara Soekarno dengan militer. Sebagai presiden dan proklamator Soekarno memang memiliki kekuasaan secara de facto maupun de pula militer, sebagai angkatan perang mengklaim punya hak atas kekuasaan mengingat jasa mereka terhadap terbentuknya republik ini. Karena itu militer menuntut hak-hak istimewa dalam politik sehingga memiliki burgain politik yang kuat baik di hadapan Soekarno maupun di hadapan partai politik. Ketidakstabilan kekuasaan politik yang dipegang partai-partai politik membuat tentara sangat risau, apalagi saat itu negara diguncang oleh berbagai pemberontakan daerah. Maka atas desakan militer pada tahun 1957 Soekarno mengumumkan diberlakukannya Undang-Undang darurat. Hal itu memungkinkan militer bisa berbuat banyak hal tanpa dibatasi kewenangannya. Sejak dikeluarkannya dekrit Presiden 5 Juli 1959 dikeluarkan oleh Soekarno, Indonesia yang seharusnya sebagai negara demokrasi pembagian kekuasaannya terdiri atas tiga lembaga, legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Tetapi dalam demokrasi terpimpin ini pembagian kekuasaan hanya ada antara Presiden Soekarno dan militer. Lalu terbentuklah partai-partai besar seperti PMI, NU, dan PKI. Kemudian situasi politik internasional semakin memanas dan mempengaruhi situasi politik nasional sehingga Soekarno semakin menggandeng PKI yang menjadi kekuatan politik yang sangat efektif. Kondisi Indonesia yang semakin parah akibat adanya program pemerintah yang menyita perhatian seluruh masyarakat dan biaya yang sangat besar di antaranya adalah pembebasan Irian Barat 1962 dari kolonial Belanda, konfrontasi dengan Malaysia, dan perekonomian yang merosot dengan kebijakan yang semakin memberatkan rakyat sehingga menyebabkan inflasi dan ketegangan politik yang semakin jauh. Akhirnya meletuslah Gerakan 30 September 1965. Mengambil momentum ini mahasiswa kembali bergerak memanfaatkan situasi untuk mengkritik keadaan. Kemudian terbentuklah Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia KAMI pada tanggal 25 Oktober 1965 yang akhirnya tersebar ke mana-mana untuk melakukan koreksi terhadap rezim yang ada. Mahasiswa menyampaikan tuntutan-tuntutan secara spontan, lalu dirumuskan dalam sebuah konsep sederhana yaitu Tritura yang isinya menuntut pembubaran PKI, Retool kabinet Dwikora, dan turunkan harga barang. Dideklarasikan pada 10 Juni 1966 tepat hari kebangkitan mahasiswa Indonesia. Berbagai aksi dilakukan dalam rangka merubah keadaan tersebut. Mahasiswa mendapat dukungan dari militer yang dipimpin oleh Soeharto yang tentu saja bukanlah sebuah keikhlasan militer itu sendiri tetapi sebagai bagian dari struggle power pertarungan kekuasaan yang tidak disadari mahasiswa sendiri. Pada tanggal 16 Februari 1966, Soekarno melakukan reshufle kabinet dwikora dengan orang-orang yang punya cacat dan tidak kompeten dalam menjalankan tugas. Lalu terjadilah aksi oleh KAMI beserta Kesatuan Pemuda dan Pelajar Indonesia KAPPI dengan tuntutan segera melaksanakan Tritura. Bentrokan terjadi dan mengakibatkan gugurnya Arief Rahman Hakim yang semakin membuat gerakan mereka solid. Ketika KAMI dilarang 4 April 1966 mahasiswa membentuk Laskar Arief Rahman Hakim yang terdiri dari 42 universitas dan perguruan tinggi di Jakarta. Militer pun semakin memberikan dukungannya dan akhirnya terjadilah aksi besar-besaran oleh mahasiswa. Kondisi keamanan yang semakin buruk dan atas skenario yang diciptakan militer, serta mahasiswa yang semakin menekan pemerintah untuk segera melakukan perubahan, akhirnya Soekarno mengadakan sidang kabinet. Setelah mengalami desakan dan tekanan dari berbagai pihak akhirnya Soekarno melimpahkan kekuasaan keamanan negara kepada militer yang saat itu dipimpin oleh Pangkostrad Soeharto. Militer mengambil alih pemerintahan dari Soekarno melalui Supersemar. PKI pun dibubarkan dan mahasiswa merasa telah berhasil dalam berbagai perjuangannya. Terlepas dari pernah terjadinya berbagai pembelahan di tubuh kalangan pergerakan tahun 1966, mesti diakui bahwa pergerakan tersebut telah menjadi kancah tampilnya tokoh-tokoh muda yang handal secara kualitatif. Sikap altruisme juga masih menjadi faktor kuat dalam pergerakan tersebut. Ini melebihi pergerakan generasi muda berikutnya. Soeharto sendiri, semasa berkuasa berkali-kali menggunakan kemampuan tokoh-tokoh muda eks gerakan 1966 itu, baik di lembaga legislatif maupun di lembaga eksekutif. Beberapa tokoh 1966 menjadi menteri yang berhasil, meski ada juga yang ternyata menjadi bagaikan 'kacang yang lupa akan kulitnya' karena mabuk oleh bius kekuasaan. Jangan sampai seorang aktivis mahasiswa yang telah melakukan pergerakan revolusioner, setelah itu duduk sebagai pemangku kebijakan di negara ini. SAMA !!! Dengan penguasa yang mereka gulingkan. Kejatuhan dari seorang diri manusia itu ialah lupa akan sejarahnya. Seperti yang dikatakan Winston Churchill, mantan Perdana Menteri Inggris "Satu-satunya hal yang kita pelajari dari sejarah adalah bahwa kita tidak benar-benar belajar darinya." Sejarah yang dia ciptakan dengan darah, air mata, harta, pengorbanan yang tidak ternilai harganya. Mereka rusak dengan Ketidak Konsistensian Pada Apa Yang Mahasiswa Perjuangaknn Selama Ini. Pelajaran bersama untuk kita generasi mahasiswa saat ini ialah Jangan sampai kita mengulangi kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan oleh para aktivis mahasiswa terdahulunya, yang mencederai perjuangan sejati mahasiwa. Perjuangan mahasiwa yang mengatasnamakan rakyat jangan kita rusak dengan ketidak konsistensian kita. Jika kita mengulangi kesalahan yang sama seperti generasi mahasiswa terdahulunya maka kita akan dikutuk sebagai manusia. George Santayana Katanya "Mereka yang mengulangi kesalahan pendahulunya, dikutuk untuk mengulanginya." DAFTAR PUSTAKA Raillon, Francois. 1985. Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia. Jakarta LP3ES.

angkatan 66 tumbuh atas dukungan dari