Penelitianini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan kepribadian tokoh utama dan hubungan intertekstual perkembangan kepribadian tokoh utama dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dan Nayla karya Djenar Maesa Ayu. Teori yang menjadi acuan adalah pendapat Satinem (2019) dan Klarer (2004) tentang struktur intrinsik, Erikson dalam Alwisol (2018) tentang struktur ekstrinsik Novel Orang-orang Proyek dan Kaitannya dengan Trilogi Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari (Analisis Strukturalisme Genetik) ".Skripsi. Jur. Pendidikan Bahasa dan Seni. FKIP. Penelitian ini bertujuan menjelaskan: (1) unsur-unsur pembentuk struktur novel Ronggeng Dukuh Paruk dan novel Canting; (2) persamaan dan perbedaan NoStruktur Penjelasan Novel 1, Abstrak Tidak terdapat struktur abstrak pada novel ini. Pada bab pertama menceritakan tentang kehidupan Rasus dan Srintil ketika masih kecil yang harus ditinggal oleh kedua orang tua mereka karena peristiwa keracunan tempe bongkrek yang menimpa warga Dukuh Paruk. Pada bab kedua menceritakan perihal Wanitadalam Novel "Ronggeng Dukuh Paruk" Karya Ahmad Tohari Telaah Struktural-Feminisme Lisda Faradila Abstract Karakter wanita sudah sejak lama menjadi pusat perhatian pengarang sastra Indonesia. Novel adalah gambaran dari kehidupan dan perilaku yang nyata, dari zaman pada saat novel itu ditulis. pelitakecil dalam kamar itu melengkapi citra punahnya kemanusiaan pada diri bekas mahkota dukuh paruk itu (hlm. 395) kata citra pada kutipan di atas adalah gambaran kepribadian dari seorang ronggeng yaitu tokoh srintil, citra tersebut telah hilang karena suatu deraan, cobaan hingga muncullah kegoncangan jiwa pada srintil yang semula Tulislah sesuatu yang sangat lokal dan kontekskan ke global serta dalam kualitas global, tidak murahan. Sesungguhnya tidak ada tataran lokal yang terpisah secara global," ANTARA News jateng nasional . Sinopsis novel Ronggeng Dukuh Paruk menceritakan kehidupan di desa kecil bernama Dukuh Paruk. Diceritakan dalam novel, kebudayaan ronggeng secara mendetail yang membuat buku ini sangat menarik untuk dibaca. Penulis menggambarkan cerita sesuai dengan realita yang terjadi di tahun tersebut. Perpaduan budaya dengan fiksi membuat buku ini semakin bagus. Resensi Novel Ronggeng Dukuh Paruk Adapun resensi novel Ronggeng Dukuh Paruk lengkap sebagai berikut 1. Identitas Novel Ronggeng Dukuh Paruk Judul NovelDukuh ParukPenulisAhmad TohariJumlah halaman408 HalamanUkuran buku15 cm x 21 cmPenerbitGramedia Pustaka UtamaKategoriBuku FiksiTahun Terbit1982 2. Sinopsis Novel Ronggeng Dukuh Paruk Sinopsis novel Ronggeng Dukuh Paruk menceritakan kehidupan di dukuh kecil dan terpencil. Dulunya, Dukuh Paruk memiliki nenek moyang yang menjadi orang kepercayaan masyarakat. Setelah nenek moyangnya meninggal, penduduk desa Dukuh Paruk masih memujanya dengan cara memuja kuburannya. Bahkan, kuburan nenek moyangnya dijadikan sebagai kiblat kebatinan kepercayaan mereka. Tokoh utama dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk yaitu Srintil. Ia adalah sesosok gadis kecil yang berusia sebelas tahun. Tetapi, ia mempunyai masa lalu yang menyedihkan. Meski begitu, Srintil mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Srintil dapat menari seperti seorang ronggeng. Di suatu waktu terdapat tiga anak laki-laki yang mencabut batang singkong di tanah kapur yaitu Warta, Dasun, dan Rasus. Sesudah berhasil mencabut singkong, mereka mengupasnya dengan gigi. Sekita, mereka terkesima melihat Srintil yang sedang mendendang sambil menari dengan sangat asyik. Ketiga lelaki itu kemudian ikut menari bersama Srintil. Srintil tinggal bersama kakeknya yang bernama Sakarya. Beliau sangat menyayangi cucunya itu, terlebih saat orangtuanya Srintil meninggal. Kakeknya yang merawat Srintil. Saat itu, Sakarya juga mengikuti gerakan Srintil sangat menari, sungguh Kakek sangat bangga saat melihat cucunya menari dengan gemulainya. Kakeknya pun berpendapat bahwa Srintil sudah dirasuki oleh Indang Ronggeng. Keesokan harinya Kakek menemu dukung ronggeng di Dukuh Paruk yaitu Kertareja. Mereka membicarakan kepandaian Srintil dalam menari dan menyanyi ronggeng. Dalam waktu beberapa hari Kartareja dan Sakarya selalu mengikuti Srintil. Kemudian, mereka mengintip Srintil yang sedang menari di bawah pohon nangka. Kemudian, Kakek Sakarya menyerahkan Serintil kepada Kertareja sebagai salah satu syarat perihal menjadi calon ronggeng di Dukuh Paruk. Sejak dua belas tahun yang lalu, Ronggeng Dukuh Paruk sudah mati. Banyak perkakas untuk mengiringi pementasan ronggeng yang sudah hampir rusak. Kini, pementasan ronggeng dimulai kembali dengan penari baru yaitu Srintil. Saat pementasan Srintil didandani oleh Nyi Kertareja, alhasil Srintil tampil layaknya ronggeng. Tidak lupa, Nyi Kertareja meniupkan mantra ke pekasi ubun-ubun Srintil. Mantra tersebut bertujuan untuk memberikan aura kecantikan kepada Srintil. Selain itu, Nyai Sakarya juga memasangkan susuk emas di tubuh Srintil. Masyarakat Dukuh Paruk sangat antusias menonton ronggeng, Kartareja bersuara bahwa akan diadakan pertunjukan ronggeng. Dengan suara gemuruh warga, Srintil melenggak lenggok selayaknya seorang ronggeng. Srintil menunjukan penampilan yang sangat apik dengan kemampuan menarinya yang memang sangat gemulai, berbeda dari penari lainnya. Rasus ikut menonton pertujuan Srintil menari. Sebagai sahabatnya sejak kecil, Rasus memang sudah lama menyimpan rasa suka kepada Srintil. Kini, ia mulai merasa bahwa Srintil sudah tidak memperhatikan Rasus lagi. Rasus menyadari bahwa Srintil tidak akan menjadi miliknya seutuhnya karena Srintil menjadi milik orang banyak untuk menjadi ronggeng Dukuh Paruk agar kebudayaan di desa kecil ini tidak hilang. Akhirnya, Rasus pun memberikan keris kyai Jaran Guyang kepada Srintil agar ia memang menjadi seorang ronggeng yang seutuhnya. 3. Kelebihan Novel Ronggeng Dukuh Paruk Kelebihan novel Ronggeng Dukuh Paruk yaitu memuat banyak sekali nilai-nilai moral untuk para pembacanya. Penulis Ahmad Tohari mengkisahkan nilai kemanusiaan untuk menghormati perempuan. Dengan menggambarkan tokoh utama Srintil sebagai sisi semangat perempuan untuk keluar dari hitamnya zaman saat itu. Dimana saat itu, perempuan harus diperbudak untuk memenuhi hawa nafsu lelaki. Perempuan juga dikekang dalam memilih jalan hidupnya sendiri. Selain itu, penulis juga menggambarkan tokoh perempuan dengan sangat detail dari segala bentuk kesengsaraan yang dialami perempuan di jaman itu. Kelebihan dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk juga mengajarkan pembaca untuk selalu mengingat sejarah di masa lalu. Sejarah tidak selalu bernilai bagus sehingga sejarah yang buruk tidak sebaiknya diulang di masa kini dan masa depan. 4. Kekurangan Novel Ronggeng Dukuh Paruk Adapun kekurangan dalam sinopsis novel Ronggeng Dukuh Paruk yaitu penulis menceritakan isi novel dengan cukup bertele-tele. Kemudian sisipan suasana di desa juga diceritakan sangat detail, tetapi keluar dari alur cerita novel. Dengan begitu cerita novel memang menjadi tidak konsisten bahkan jenuh untuk dibaca. Penulis juga cukup banyak menggunakan kata-kata kasar yang seronok sehingga kurang pas saat novel ini dijadikan bahan bacaan edukasi. 5. Unsur Intrinsik Novel Ronggeng Dukuh Paruk Berikut ini unsur intrinsik novel Ronggeng Dukuh Paruk yang membangun cerita menjadi lebih menarik. Tema Tema dalam novel Ronggeng Dukuh paruk yaitu kebudayaan. Menceritakan kehidupan ronggeng secara mendetail yang memang menjadi adat kebudayaan di desa Dukuh Paruk. Tokoh Srinti, sabar dan mempunyai semangat penyayang dan keras dan Sakarya, penyayang, sabar, dan penyayang dan Kertareja, licik dan lelaki hidung baik dan bijaksana. Latar Tempat Dukuh Srintil. Alur Alur dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk yaitu alur campuran. Penulis menggambarkan cerita melaju ke masa depan dan masa lalu. Sudut Pandang Sudut pandang yang digunakan dalam novel ini yaitu orang pertama serba tahu. Ditandai dengan adanya penggunaan kata “aku” di dalam novel. Amanat Amanat yang terkandung di dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk yaitu sebagai seorang perempuan harus menjaga kesuciannya sebelum menikah. Sebagai umat manusia yang berketuhanan maka sebaiknya mempercayai adanya Tuhan, bukan hal-hal yang bersifat negatif dan tahayul. Apabila kita mempunyai keterbatasan pemahaman maka hidup kita tidak akan maju. Penulis juga menuliskan amanat untuk selalu sabar dan ikhlas dalam menjalani kehidupan. Diksi Penulis menggunakan diksi yang sederhana dan ringan, seperti bahasa sehari-hari. Tetapi, terdapat juga penggunaan majas Simile sehingga membuat bahasa dalam novel semakin bagus. 6. Unsur Ekstrinsik Novel Ronggeng Dukuh Paruk Adapun unsur ekstrinsik novel Ronggeng Dukuh Paruk yang membuat ceritanya semakin bagus. Nilai Politik Nilai politik yang tersirat dalam cerita novel yaitu keprihatinan dengan sikap kesewenangan kekuasaan orang-orang yang berkedudukan tinggi dalam menindas masyarakat kecil. Nilai Sosial Tersirat pula nilai sosial dalam novel yang memberikan pemahaman bahwa kesadaran seseorang terhadap nilai kemanusiaan masih kurang. Sesama manusia tentu kita harus saling menghargai. Nilai Ekonomi Nilai ekonomi yang terdapat dalam novel yaitu menggambarkan kehidupan kemiskinan yang terjadi di daerah terpencil. Daerah tersebut membutuhkan perhatian dari pemerintah. Nilai Moral Nilai moral yang tersirat dalam novel yaitu janganlah sombong saat kita sudah sudah, jangan melakukan hal yang tidak baik untuk mencapai kesuksesan. 7. Pesan Moral Novel Ronggeng Dukuh Paruk Pesan moral yang tersirat dalam sinopsis novel Ronggeng Dukuh Paruk yaitu sebagai seorang wanita kita harus mempunyai harga diri yang tinggi. Kebudayaan di jaman dahulu memang bagus dan tidak boleh dihilangkan, tetapi ambilah hal yang positif dan buang hal-hal yang bersifat negatif. 75% found this document useful 4 votes15K views19 pagesOriginal TitleANALISIS NOVEL RONGGENG DUKUH © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?75% found this document useful 4 votes15K views19 pagesAnalisis Novel Ronggeng Dukuh ParukOriginal TitleANALISIS NOVEL RONGGENG DUKUH to Page You are on page 1of 19 You're Reading a Free Preview Pages 7 to 17 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. "Ronggeng Dukuh Paruk"Trilogi PertamaKarya Ahmad Tohari Nilai- nilai kepercayaan tentang sesuatu ajaran leluhur yang sangat sulit ditelaah oleh nalar telah mengalir dan mendarah daging, memunculkan cerita klasik yang bertemakan misteri yang dialami oleh seorang pemuda yang hidup dalam lingkungan yang penuh dengan nafsu birahi dan adat yang penuh akan seksualitas. Tema misteri yang diangkat dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk ini sungguh merupakan tanda tanya besar yang dipenuhi dengan konflik batin dan perjuangan yang dialami oleh tokoh utamanya sendiri, bergulat dalam suatu hal yang jauh dari ambang nyata yang membuat bayangan dan angan yang kian mengambang telah merasuk serta menciptakan perkelahian hebat antara dua asumsi berbeda yang mencuat di dalam diri seorang pemuda bernama Rasus belum lagi mengingat adat daerahnya yang tak lazim sehingga mengakibatkan asumsi itu makin berkobar. Adapun tema misteri dalam novel ini diperkuat oleh kutipan berikut;Orang-orang pandai itu, siapa pun dia, merasa berhak menyembunyikan kubur Emak. Aku yang pernah sembilan bulan bersemayam dalam rahim Emak tidak perlu mengetahuinya. Dalam membayangkan pencincangan terhadap mayat Emak, aku tidak merasakan kengerian. Ini pengakuanku yang jujur. Sebab bayangan demikian masih lebih baik bagiku daripada bayangan lain yang juga mengusik angan-anganku. Itu andaikan Emak tidak meninggal melainkan pergi bersama si Mantri entah ke mana. Boleh jadi Emak hidup senang. Di luar Dukuh Paruk kehidupan selalu lebih baik demikian keyakinanku sepanjang orang-orang dalam beberapa setiap peristiwa yang hadir dalam sebuah novel merupakan bagian yang disebut dengan tokoh. Adapun tokoh dalam novel yang bertajuk Ronggeng Dukuh Paruk ini adalah Rasus, Srintil, Warta, Darsun, Ki Secamenggala, Sakarya & Nyai Sakarya, Santayib & Istri Santayib,Ki Kartareja & Nyai Kartareja, Sakum, Dower, Sulam, Nenek Rasus, Siti, dan Sersan kita telah mengulas tokoh-tokoh yang berperan dan ambil andil dalam beberapa peristiwa yang terjadi di dalam novel, adapun hal yang masih memiliki keterkaitan dengan ulasan sebelumnya adalah penokohan, yang membicarakan mengenai gambaran fisik, karakter, watak atau sifat yang dimiliki oleh tiap tokoh-tokoh tersebut. Mulai dari tokoh utama sendiri yakni Rasus Aku, tokoh Rasus digambarkan sebagai seorang pemuda Dukuh Paruk yang berumur 14 tahun, mempunyai karakter yang tidak sabaran, bersahabat, imajinatif, terlalu menyimpan dendam dan benci, hal ini dapat dilihat dari beberapa kutipan berikut ;"Sudah, sudah. Kalian tolol," ujar Rasus tak sabarTetapi Dukuh Paruk dan orang-orangnya disana tak ada yang mengerti diriku yang sakit. Memang Dukuh Paruk memberi kesempatan kepadaku mengisi bagian hati yang kosong dengan seorang perawan kecil bernama Srintil. Tidak lama, sebab sejak peristiwa malam bukak-klambu itu Srintil diseret ke luar dari dalam hatiku, Dukuh Paruk bertindak semena-mena kepadaku. Aku bersumpah takkan memaafkannya. 1 2 3 4 5 6 7 8 Lihat Fiksiana Selengkapnya - Novel Ronggeng Dukuh Paruk ditulis Ahmad Tohari dan diadaptasi dua kali dalam film layar lebar di Indonesia. Ronggeng Dukuh Paruk RDP adalah satu judul dari trilogi novel karya Ahmad Tohari. Dua judul lainnya adalah Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala. Mulanya, Koran Kompas mempublikasikan cerita dalam novel RDP sebagai cerita bersambung. Novel RDP memuat cerita kehidupan dan adat kebiasaan masyarakat di Dukuh Paruk. Dukuh ini terletak pada sebuah wilayah di Jawa dengan kondisi memprihatinkan Terbelakang dan melarat. Penduduknya memelihara kebodohan dan rasa malas. Kemudian PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, menerbitkan novel RDP untuk kali pertama di tahun 1982. Sampai dengan Februari 1999, novel ini sudah masuk ke cetakan ke 5. Lalu, mengutip situs Ensiklopedia Kemdikbud, triloginya disatukan menjadi satu buku dengan judul Ronggeng Dukuh Paruk pada tahun 2003 dan November 2011. Novel RDP juga diterbitkan dalam edisi bahasa Jepang di tahun 1986. Di samping itu, banyak pula penulisan skripsi yang mengambil novel RDP sebagai objek penelitian. Di kancah perfilman, RDP diangkat dua kali sebagai tema film. Film pertama berjudul Darah dan Mahkota Ronggeng yang disutradarai Yazman Yazid. Film yang rilis tahun 1983 itu dibintangi Ray Sahetapy dan Enny Beatrice. Film adaptasi novel RDP selanjutnya berjudul Sang Penari yang dirilis 1983. Film yang dibintangi Prisia Nasution dan Oka Antara ini bahkan meraih 10 nominasi pada Festival Film Indonesia 2011. Di bawah arahan sutradara Ifa Isfansyah, film Sang Penari memboyong empat Piala Citra untuk penghargaan Ronggeng Dukuh Paruk Dikutip dari laman Journal Universitas Pakuan, novel RDP menceritakan kembalinya Srinthil ke Dukuh Paruk. Srinthil adalah bocah berusia 11 tahun yang berprofesi sebagai ronggeng. Dia dianggap keturunan Ki Secamenggala yang diyakini dapat mengembalikan citra pedukuhan. Masyarakat setempat meyakini kehadiran Srinthil menjadi pelengkap. Mereka meyakini kelengkapan dukuh terdiri dari keramat Ki Secamenggala, seloroh cabul, sumpah serapah, dan ronggeng bersama perangkat calungnya. Srinthil adalah anak yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal bersama 16 penduduk lain yang mengalami keracunan tempe bongkrek. Kedua orang tua Srinthil merupakan pembuat tempe itu. Srinthil yang kala itu masih bayi, lalu dirawat kakek-neneknya. Kakeknya meyakini Srinthil sudah kerasukan indang ronggeng dan dilahirkan sebagai ronggeng dengan restu arwah Ki Secamenggala. Karena anggapan seperti itulah, Srinthil digembleng menjadi ronggeng. Kartareja, sang dukun ronggeng, mengajak Srinthil mengikuti tahapan sebagai ronggeng sesungguhnya. Sebagai awalan, Srinthil mandi kembang di depan cungkup makam Ki Secamenggala. Tahapan lain yang dilalui Srinthil adalah buka kelambu. Dirinya tidak tidak bisa memungut bayaran saat berpentas jika belum melalui tahapan ini. Di lain sisi, ada Rasus yang keberatan jika Srinthil harus melalui semua syarat tersebut. Dia adalah teman main Srinthil sejak kecil. Rasus merasa sakit hati dan cemburu karena Srinthil menjadi ronggeng. Profesi ronggeng artinya Srinthil menjadi milik umum. Kegadisan Srinthil disayembarakan. Rasus makin marah saat dirinya yang berusia 14 tahun itu tidak bisa berbuat banyak pada gadis yang dicintainya. Hingga suatu hari, terjadi pertengkaran antara Dower dan Sulam di emper samping rumah Kertareja untuk memperebutkan keperawanan Srinthil. Rasus yang juga berada di sisi lain rumah tersebut, tidak bisa melakukan apa pun. Kartareja menyaratkan seringgit uang emas untuk nilai keperawanan Srinthil. Tapi, Srinthil mendadak muncul dari belakang rumah Kartareja dan mendatangi Rasus. Dia meminta Rasus untuk menggaulinya. Srinthil lebih suka kehilangan keperawanan karena Rasus, ketimbang dengan dua orang yang sedang memperebutkannya. Rasus mengiyakan permintaan Srinthil. Setelah itu, giliran Dower dan Sulam. Sementara Kartareja menikmati hasil menjadi mucikari berupa seringgit uang emas dari Sulam, lalu seekor kerbau dan dua keping perak dari Dower. Meski bisa mendapatkan keperawanan Srinthil, Rasus justru makin benci padanya karena pekerjaan ronggeng itu. Rasus pergi meninggalkan Dukuh Paruk dan meninggalkan sosok Srinthil sebagai bayang-bayang ibunya yang telah pergi entah ke mana. Srinthil sempat menawarkan dirinya pada Rasus untuk dinikahi. Namun, Rasus sudah yakin dengan keputusan untuk juga Sinopsis Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer Novel Burung-burung Manyar & Nasionalisme Orang-orang Kalah - Pendidikan Kontributor Ilham Choirul AnwarPenulis Ilham Choirul AnwarEditor Aditya Widya Putri

struktur novel ronggeng dukuh paruk